BERITA

STIKes Akbidyo Gelar FGD Eksplorasi Kearifan Lokal “Masak, Macak, Manak” untuk Penguatan Kesehatan Reproduksi Perempuan


20-05-2026 05:50:45

Bantul, 20 Mei 2026 – Dosen STIKes Akbidyo Yogyakarta melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari tahapan penelitian berjudul “Konstruksi Konseptual Kemitraan Bidan–Perempuan Berbasis Kearifan Lokal ‘Masak, Macak, Manak’ dalam Penguatan Kesehatan Reproduksi.” Kegiatan yang berlangsung di Gedung Grha Delima IBI Cabang Bantul ini menjadi forum ilmiah untuk menggali perspektif dan pengalaman para bidan terkait implementasi nilai-nilai budaya lokal dalam pelayanan kesehatan reproduksi.

FGD tersebut diikuti oleh 10 bidan praktik swasta di Kabupaten Bantul yang memiliki pengalaman langsung dalam mendampingi perempuan pada berbagai fase kehidupan reproduksi. Difasilitasi tim peneliti STIKes Akbidyo yang terdiri dari Istri Bartini, S.SiT, M.P.H. (ketua peneliti), Bdn. Ari Andriyani, S.SiT., M.Keb. (anggota peneliti), dan Era Revika, S.ST, M.Kes. (anggota peneliti), diskusi berlangsung intensif mendalami pandangan seluruh peserta mengenai hubungan antara budaya, peran perempuan, dan praktik pelayanan kebidanan di masyarakat.

Penelitian ini merupakan bagian dari hibah penelitian dosen yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Dukungan pendanaan tersebut menjadi wujud komitmen pemerintah dalam mendorong pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Mengkaji Kembali Filosofi “Masak, Macak, Manak”

Dalam budaya Jawa, istilah “Masak, Macak, Manak” telah lama dikenal sebagai representasi peran perempuan dalam kehidupan keluarga dan sosial. Namun, perubahan sosial yang terus berkembang menuntut adanya pemaknaan ulang terhadap filosofi tersebut agar tetap relevan dengan kondisi perempuan masa kini.

Melalui penelitian ini, tim peneliti berupaya mengidentifikasi dan merekonstruksi nilai-nilai positif yang terkandung dalam konsep tersebut sebagai landasan penguatan kemitraan antara bidan dan perempuan. Pendekatan berbasis budaya dipandang penting karena dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pesan-pesan kesehatan reproduksi.

Menghadirkan Pakar Budaya Jawa

Untuk memperkaya kajian, FGD menghadirkan Dr. Sri Ratna Saktimulya sebagai narasumber. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa kearifan lokal tidak seharusnya dipahami secara tekstual semata, melainkan perlu ditafsirkan sesuai konteks zaman dan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, nilai budaya dapat menjadi modal sosial yang kuat dalam mendukung pembangunan kesehatan apabila dipahami secara kritis dan diterapkan secara adaptif. Oleh karena itu, pendekatan budaya memiliki potensi besar untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan reproduksi perempuan.

Bidan sebagai Mitra Strategis Perempuan

Dalam diskusi, para bidan menyampaikan berbagai pengalaman terkait pendampingan perempuan dalam aspek kesehatan reproduksi, mulai dari edukasi kesehatan, perencanaan kehamilan, kehamilan, persalinan, hingga kesehatan reproduksi pada usia lanjut.

Berbagai masukan yang muncul menunjukkan bahwa keberhasilan edukasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh aspek medis, tetapi juga oleh kemampuan tenaga kesehatan memahami nilai-nilai budaya yang dianut masyarakat. Pendekatan yang sensitif terhadap budaya dinilai mampu meningkatkan kepercayaan dan partisipasi perempuan dalam menjaga kesehatan reproduksinya.

Kontribusi bagi Pengembangan Ilmu Kebidanan

Sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan, STIKes Akbidyo Yogyakarta berkomitmen untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui FGD ini, tim peneliti memperoleh berbagai data dan perspektif yang akan menjadi bahan dalam penyusunan model konseptual kemitraan bidan–perempuan berbasis kearifan lokal.

Model yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan dalam pelayanan kebidanan yang lebih kontekstual, humanis, dan sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa.

Menuju Pelayanan Kesehatan yang Berbasis Budaya

FGD ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses penelitian yang masih akan berlanjut pada tahap analisis dan pengembangan konsep. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi referensi bagi praktisi kebidanan, akademisi, maupun pembuat kebijakan dalam mengembangkan strategi penguatan kesehatan reproduksi yang selaras dengan nilai-nilai budaya lokal.

Melalui sinergi antara ilmu kesehatan dan kearifan budaya, STIKes Akbidyo Yogyakarta berharap dapat berkontribusi dalam mewujudkan pelayanan kesehatan reproduksi yang lebih efektif, berdaya guna, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.





Lihat Semua Berita