BERITA TERBARU

Oleh dr Mahindria VV SpOG (Dosen Program Studi Sarjana Kebidanan dan Pendidikan Profesi Bidan STIKes Akbidyo)

Krjogja.com - YOGYA - Masa prakonsepsi adalah periode sebelum terjadi kehamilan. Persiapan prakonsepsi bertujuan mempersiapkan kondisi fisik, mental, dan sosial agar kehamilan dapat berlangsung sehat dan aman. Persiapan prakonsepsi harus mencakup seluruh dimensi kesehatan, mulai dari pemeriksaan fisik, status gizi, deteksi penyakit menular dan penyakit kronis, hingga kesiapan mental dan sosial pasangan.

Fakta Epidemiologis Kesehatan Fisik Prakonsepsi

Kesehatan reproduksi pria berperan penting dalam kualitas sperma dan keberhasilan pembuahan, sedangkan kesehatan wanita sangat menentukan lingkungan awal tumbuh kembang janin. Penelitian terkini menunjukkan bahwa skrining prakonsepsi dapat menurunkan risiko kematian ibu hingga 28 persen, kematian bayi sebesar 18 persen, dan kelahiran prematur sebesar 12 persen. Banyak pasangan yang kurang memiliki pengetahuan serta akses terhadap pelayanan prakonsepsi terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fakta Epidemiologis Kesehatan Mental Prakonsepsi

Kesehatan mental prakonsepsi memengaruhi keberhasilan kehamilan dan kualitas hidup. Perhatian terhadap isu ini meningkat seiring dengan bukti ilmiah yang menunjukkan dampak signifikan gangguan mental prakonsepsi terhadap luaran kehamilan dan perkembangan anak. Fakta kejadian gangguan kesehatan mental yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas dan masa menyusui, sering muncul di media online maupun media sosial di Indonesia.

Penelitian menunjukkan sekitar satu dari empat wanita usia reproduksi mengalami gangguan mental; depresi dan kecemasan sebagai diagnosis terbanyak. Prevalensi ini cenderung meningkat pada kelompok usia muda dan pada wanita dengan status sosial ekonomi rendah. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kurangnya dukungan pasangan dan keluarga, serta paparan stres kronis.

Studi longitudinal menunjukkan sekitar 10 persen pria mengalami masalah kesehatan mental, pada masa menjelang kehamilan pasangan mereka. Hampir 40 persen pria pernah mengalami gangguan mental pada masa remaja atau dewasa muda. Pria dengan riwayat gangguan mental empat kali lebih berisiko mengalami masalah mental saat masa antenatal dibandingkan pria tanpa riwayat tersebut.

Persiapan prakonsepsi merupakan langkah krusial untuk meningkatkan peluang kehamilan sehat dan aman serta melahirkan generasi berkualitas. Skrining dan intervensi pada masa prakonsepsi terbukti efektif meningkatkan kualitas kesehatan ibu, anak, dan keluarga. Literasi, pemeriksaan kesehatan, dan perencanaan kehamilan yang matang harus menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan reproduksi. (disarikan dari berbagai sumber)

Sumber: krjogja .com

Baca Selengkapnya

Menyikapi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai kawan atau sebagai lawan adalah pilihan. Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, namun harus pandai-pandai memanfaatkannya. Untuk itu posisikan AI hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti manusianya, sebab kekuatan dan kemampuan sejati ada pada diri sendiri. Demikian mengemuka pada Kuliah Umum Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Akbidyo tahun akademik 2025/2026, Kamis (30/10/2025), di Prambanan Ballroom Hotel Cavinton Yogyakarta.

Kuliah umum bertema “Integrasi Teknologi Digital dan AI dalam Pendidikan serta Pelayanan Kesehatan” itu diikuti mahasiswa dari seluruh program studi, yaitu D3 Kebidanan, D4 Manajemen Informasi Kesehatan (Rekam Medis), S1 Farmasi, serta S1 Kebidanan-Pendidikan Profesi Bidan.Hadir sebagai pembicara, Direktur Program Pascasarjana Universitas Amikom Yogya Prof Kusrini MKom PhD dan Microsoft MVP on AI Agus Suparno SSi MEng dengan moderator Dr Nining Tunggal SS MPH.Prof Kusrini menegaskan, pada era revolusi industri 4.0 sekarang terjadi perubahan besar teknologi digital, sehingga keberadaan AI tidak bisa dihindari.

AI adalah kecerdasan buatan yang memungkinkan mesin dan komputer meniru kemampuan kognitif manusia seperti, belajar, memecahkan masalah, membuat keputusan dan memahami bahasa. AI memanfaatkan data untuk mengidentifikasi pola, membuat prediksi dan melakukan tugas-tugas kompleks secara otonom. Tujuannya, untuk membantu pekerjaan, meningkatkan efisiensi dan mempermudah berbagai aspek kehidupan.

"Orang yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan teknologi akan terpinggirkan," tegasnya.Menurut Prof Kusrini, pemanfaatan AI di bidang kesehatan merupakan keniscayaan yang tak mungkin dihindari. Sejak era pandemi teknologi di bidang kesehatan mengalami perubahan signifikan. Hal itu menjadikan AI lazim diimplementasikan pada hampir seluruh disiplin ilmu bidang kesehatan.Dia mencontohkan sejumlah teknologi AI untuk bidang kesehatan dan sebagian di antaranya merupakan hasil penelitiannya. Misalnya, mesin learning sistem pakar kesehatan, Asesmen Geriatri Jarak Jauh, kursi roda SMATSI dan lain-lain.

Namun, Prof Kusrini mengingatkan, harus cermat dan hati-hati dalam mengimplementasikan AI di bidang kesehatan. Tetap harus kroscek ketika menggunakan AI. Dalam hal ini, penggunaan AI hanya sebagai alat bantu, bukan menjadi rujukan utama. "Kesalahan diagnosis menjadi tanggungjawab pengguna AI. Ingat, setiap inovasi pasti ada standarnya, ada referensinya," paparnya.Pada sesi tanya jawab, muncul beberapa pertanyaan menggelitik yang menjadi realita ironi di aktivitas akademik. Salah satu mahasiswa mengungkapkan keresahannya, demi menjaga 'kekritisannya' banyak mahasiswa termasuk dosen mengalami ketergantungan pada AI.

Contohnya pada forum ilmiah di kampus, mahasiswa yang bertanya menggunakan contekan dari AI. Demikian pula penyaji materi menjawab juga menggunakan materi dari AI. Celakanya, kadang jawaban yang tidak nyambung dengan pertanyaan tetap disampaikan hanya karena hasil dari AI. Menanggapi hal itu, Agus Suparno mengingatkan agar memposisikan AI hanya sebagai alat bantu, untuk mencegah ketergantungan.Demi menghindari 'kelucuan' akademik terutama pada forum ilmiah, sebaiknya menerapkan aturan penggunaan AI sebelum mengadakan diskusi atau seminar di kampus.(*)

Sumber: https://www.krjogja.com/pendidikan/1246769799/kuliah-umum-stikes-akbidyo-hindari-ketergantungan-posisikan-ai-jadi-alat-bantu

Baca Selengkapnya

Pemberdayaan masyarakat melalui revitalisasi kebun toga dan diversifikasi produk minuman fungsional menuju desa sehat mandiri di Karangtengah, Imogiri, Bantul baca artikel

Baca Selengkapnya

KRjogja.com - YOGYA - Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Akbidyo melaksanakan acara Angkat Janji bagi mahasiswa semester III Program Studi Diploma 3 Kebidanan dan mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan.

Angkat Janji menjadi momen penting dalam tahapan pendidikan mahasiswa sebelum melaksanakan praktik klinik secara langsung.

Sebanyak 27 mahasiswa mengucap Angkat Janji di aula kampus setempat, Jalan Parangtritis Km 6 Sewon Bantul, Kamis (18/9/2025). Mereka terdiri dari 14 mahasiswa Program Diploma 3 semester III dan 13 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Bidan semester I.

Prosesi ditandai dengan simbolik pemasangan cap (penutup kepala) oleh Ketua STIKes Akbidyo Bdn Endang Khoirunnisa STTKeb MKes. Turut hadir dan memberikan sambutan pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) DIY Isti Triyani SKM Bdn MKes. Dalam hal ini IBI memberikan dukungan terhadap proses pendidikan calon tenaga kesehatan yang profesional dan beretika.Ketua Panitia Sylvi Wafda Nur Amelia SST MKeb, menjelaskan sebelum mengucap angkat janji, seluruh mahasiswa telah mendapatkan pembekalan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill) di laboratorium pendidikan.
Pembelajaran dilakukan secara intensif oleh dosen pengampu, serta didukung oleh pembimbing praktisi dari lahan praktik.

“Pembekalan ini guna memastikan mahasiswa siap secara kompetensi dan etika dalam memberikan asuhan kebidanan di lapangan,” jelasnya.

Sylvi menuturkan, kegiatan angkat janji ini merupakan bentuk komitmen moral dan profesional mahasiswa dalam menjaga etika, integritas, dan tanggung jawab selama menjalani praktik klinik di fasilitas layanan kesehatan.Prosesi ini juga menjadi simbol kesiapan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebidanan serta keselamatan dan kenyamanan pasien.

Ditambahkan, dengan terlaksananya angkat janji ini, diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan praktik klinik dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, mampu berkontribusi dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang bermutu.(*)

Sumber: krjogja .com

Baca Selengkapnya

Lihat Semua Berita

PROGRAM STUDI

DIII - Kebidanan
 
 

Lihat Profil

DIV - Manajemen Informasi Kesehatan / Rekam Medis

Lihat Profil

SI - Farmasi
 
 

Lihat Profil

SI - Profesi Kebidanan
 
 

Lihat Profil

TAUTAN

Pic

DIKTI

Pic

KEMKES RI

Pic

DINKES DIY

Pic

PIKM AKBIDYO

Pic

Sister STIKes Akbidyo

Pic

Kepegawaian STIKes Akbidyo

Pic

Penilaian Angka Kredit Dosen

Pic

LLDIKTI V

Pic

Science and Technology Index

Pic

Garba Rujukan Digital

Pic

Repositori

Pic

Anjungan Integritas Akademik Indonesia

Pic

Basis Info Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Pic

Akreditasi Jurnal Nasional

Pic

Jaringan Menulis Ilmiah Indonesia

Pic

Jurnal STIKes AKbidyo