PROGRAM UNGGULAN
Program Unggulan di Akademi Kebidanan Yogyakarta adalah sebagai berikut :
1. Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi
2. Pendidikan Kewirausahaan
3. Sertifikasi Bahasa Inggris (English for Medical Professional)
4. Peningkatan Pengetahuan Bidan Desa dalam Penanggulangan HIV/AIDS
1. Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi
Latar Belakang
Pergaulan remaja yang longgar dan bebas sebagai akibat dari pengawasan yang kurang serta perkembangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang makin maju serta kurangnya pengetahuan masalah reproduksi, mengakibatkan terjadinya penyimpangan perilaku remaja.
Masalah kesehatan reproduksi remaja sampai dengan lanjut usia merupakan masalah yang sangat penting dan perlu perhatian dan penanganan, maka Akademi Kebidanan Yogyakarta menggalang kerjasama dengan BKKBN Propinsi DIY , Dinas Kesehatan Propinsi DIY dan PKBI Propinsi DIY melaksanakan program pemberian konsultasi secara gratis mengenai masalah reproduksi dengan membentuk Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi (PIK-KR).
Tujuan :
Dengan terbentuknya Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi ( PIKKR) merupakan salah satu kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Akademi Kebidanan Yogyakarta dalam rangka perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi bertujuan untuk :
1. Memberdayakan remaja dan pra-remaja dengan pengetahuan dan pemahaman tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi agar dapat bersikap dan berperilaku yang bertanggung jawab untuk mengurangi KTD, PMS, HIV/AIDS, nikah usia muda.
2. Memberdayakan perempuan dan pasangannya agar menyadari dan menerapkan hak-hak sexual dan reproduksi mereka yang berkeadilan dan berkesetaraan gender dalam kehidupan sehari-hari.
3. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi keluarga dan masyarakat tentang kesehatan reproduksi, terutama kesehatan ibu dan anak dan untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang bertanggungjawab, sehingga dapat meningkatkan status kesehatan dan gizi seluruh anggota keluarga (khususnya ibu dan anak).
4. Para lanjut usia mampu untuk menolong dirinya sendiri dalam mengatasi masalah kesehatannya serta dapat menyumbangkan tenaga dan kemampuannya untuk kepentingan keluarga maupun masyarakat .
Kegiatan :
A. Jenis Kegiatan
Konseling Gratis Kesehatan reproduksi:
• Remaja (gangguan haid, gangguan gizi, gangguan identitas
diri)
• Pasangan usia subur ( Kesuburan, gangguan haid,
perencanaan KB)
• Pasca Reproduksi (Menopause).
Konsultasi Kehamilan
B. Waktu :
• Senin - Kamis
• Jam 09.00-11.00 & 14.00 – 17.00
C. Model Layanan Konsultasi
• Tatapmuka dengan langsung datang ke PIKKR Akademi
Kebidanan Yogyakarta, Jln. Parangtritis Km 6 Yogyakarta
• Melalui Telp (o274) 6529228
• Melalui SMS Center : 081804353261)
• Melalui Blog : www.pikkr.wordpress.com
• Melalui email : www.akbidyo.ac.id

Konsultasi kesehatan reproduksi di PIKKR

Penyuluhan kesehatan reproduksi di Sekolah Menengah Atas
2. Pendidikan Kewirausahaan
Latar Belakang
Akademi Kebidanan Yogyakarta memiliki visi mencetak Tenaga Bidan Profesional dan Mandiri. Dalam rangka mewujudkan visi, mahasiswa dibekali pembelajaran yang berkualitas secara teori dan praktik sehingga mampu menghasilkan lulusan yang bermutu dan berdaya saing tinggi.
Upaya peningkatan kualitas lulusan akademi kebidanan yang sinergis dengan peningkatan kompetensi dan sekaligus selaras dengan percepatan perubahan pasar. Merupakan suatu keharusan bagi sebuah akademi kebidanan agar nilai keberlanjutan (sustainability) lulusan sesuai dengan harapan mahasiswa, keluarga dan masyarakat, yakni segera mendapatkan atau membuka lapangan pekerjaan.
Seorang bidan yang membuka praktik mandiri dapat disebut juga sebagai wirausahawan. Dimana wirausahawan adalah seorang yang memiliki keahlian menjual, mulai menawarkan ide hinggá komoditas yakni layanan jasa. Sebagai pelaku usaha mandiri dalam bentuk layanan jasa kesehatan dituntut untuk mengetahui dengan baik manajemen usaha. Bidan sebagai pelaku usaha mandiri dapat berhasil baik dituntut untuk mampu sebagai manajerial dan pelaksana usaha, di dukung pula kemampuan menyusun perencanaan berdasarkan visi yang diimplementasikan secara strategis dan mempunyai kemampuan personal selling yang baik guna meraih sukses.
Atas dasar pertimbangan inilah maka mahasiwa Akademi Kebidanan Yogyakarta yang telah memasuki semester VI dibekali pendidikan teknis wirausaha (soft skill). Harapan kita mahasiswa yang telah dibekali dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) praktis yakni melalui pendidikan kewirausahaan yang profesional akan menambah wawasan mahasiswa memasuki dunia kerja.
Tujuan umum :
Tujuan dilaksanakan pendidikan kewirausahaan ini sebagai perwujudan visi Akademi Kebidanan Yogyakarta dengan memberikan bekal lulusan Akademi Kebidanan Yogyakarta dengan pengetahuan teknis kewirausahaan guna memasuki dunia kerja atau membuka Bidan Praktik Swasta (BPS) yang profesional dan mandiri.
Tujuan khusus :
Diharapkan setelah mengikuti pendidikan kewirausahaan bidan praktik mandiri, peserta didik mampu:
1. Memahami dasar wirausaha
2. Memahami ijin pendirian bidan praktik swasta
3. Memahami kode etik promosi usaha pelayanan kesehatan
4. Menjalin kerjasama dengan instansi lain sebagai pendukung wirausaha.
5. Memulai usaha kecil/ Bidan Praktik Swasta(BPS)
6. Mengembangkan usaha menjadi Rumah Bersalin (RB)
7. Melihat langsung pengelolaan kewirausahaan pada sebuah klinik kebidanan
8. Memberikan bekal untuk memberikan pelayanan kebidanan yang aman, nyaman, dan dapat memuaskan stakeholder.
Peserta:
Seluruh mahasiswa Akademi Kebidanan Yogyakarta yang telah menyelesaikan perkuliahan dan dinyatakan lulus.
Tenaga Pendidik Kewirausahaan:
1. Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi Provinsi DIY
2. Akademi Kebidanan Yogyakarta
3. Balai Pelatihan dan Pengembangan Kerja
4. Bank BNI cabang Bantul
5. Ikatan Bidan Indonesia
6. Bidan Praktik Swasta
7. Bidan Rumah Bersalin
8. Praktisi hukum perdata

Pelatihan Kewirausahaan
3. Sertifikasi Bahasa Inggris (English For Medical Professional)
Seiring dengan era globalisasi dan untuk mewujudkan visi Akademi Kebidanan Yogyakarta, yaitu mencetak Tenaga Bidan Profesional dan Mandiri, selain dibekali pembelajaran yang berkualitas secara teori dan praktik, mahasiswa juga di bekali dengan pendidikan bahasa Inggris secara khusus. Bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA memberikan pendidikan kemampuan berbahasa Inggris (English for Medical Professional). Diakhir pendidikannya, mahasiswa akan memperoleh sertifikat. Dengan kemampuan berbahasa Inggris ini mahasiswa diharapkan mampu bersaing secara global.

Pelatihan Bahasa Inggris
4. Peningkatan Pengetahuan Bidan Desa dalam Penanggulangan HIV/AIDS
Upaya pengembangan masyarakat Indonesia yang sehat, sejahtera, adil dan makmur tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Secara proporsional tugas ini diemban pula oleh seluruh komponen bangsa lainnya, termasuk di dalamnya generasi muda penerus bangsa. Seluruh komponen ini mempunyai kepentingan untuk secara aktif bersinergi dalam upaya kemajuan bangsa Indonesia.
Penempatan bidan di desa merupakan salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan hingga ke desa-desa. Kebijakan tersebut merupakan komitmen nasional dan akan diupayakan secara maksimal dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Namun dalam realitanya, seorang bidan desa yang langsung terjun ke masyarakat desa, dipandang sebagai seorang tenaga kesehatan yang tidak hanya mampu menolong persalinan, tetapi penanganan masalah kesehatan secara umum. Pergesaran tugas dan fungsi bidan desa itu sendiri karena sudah melayani pelayanan umum bukan hanya anak dan ibu saja, dan hal ini tidak dapat dielakkan karena kebutuhan untuk tambahan ekonomi keluarga sehari-hari, selain itu juga permintaan masyarakat desa. Padahal tugas pokok bidan di desa sebetulnya menolong persalinan, periksa hamil dan imunisasi. Tentu hal ini tidak sesuai dengan pendidikan yang didapatnya. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bantul terdapat 75 desa dan setiap desa memiliki penanggungjawab 1 bidan desa, sehingga jumlah bidan desa di kabupaten Bantul kurang lebih 75 bidan desa.
Salah satu permasalahan yang sangat vital adalah permasalahan timbulnya penyakit menular seksual seperti AIDS, dan permasalahan sosial lainnya yang berpengaruh terhadap kesiapan masyarakat, khususnya remaja untuk menyongsong masa depan. Jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi DIY dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2003 penderita HIV/AIDS di DIY baru 31 orang. Kemudian tahun 2004 meningkat menjadi 139 orang, tahun 2005 menjadi 221 orang, tahun 2006 bertambah menjadi 296 orang, tahun 2007 bertambah lagi menjadi 393 orang, dan terakhir hingga Juni 2008 sudah mencapai 547 penderita. Kasus ini dimungkinkan masih merupakan fenomena gunung es. Jumlah yang belum terekam lebih banyak lagi karena baru sekitar 16% penderita yang berhasil ditemukan dan dilaporkan. Penderita HIV/AIDS tersebut sebagian besar disebabkan akibat heteroseksual serta pemakaian jarum suntik untuk narkoba dengan penderita yang sebagian besar berada di usia produktif (Pemda-DIY, 2008). Menurut beberapa sumber informasi, bahwa penularan HIV/AIDS telah mencapai fase keluarga.
Dewasa ini, resiko penularan HIV/AIDS juga terjadi pada ibu ke bayi. Bayi yang sudah terinfeksi HIV/AIDS sebaiknya diberikan ASI ekslusif selama 4-6 bulan karena terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat infeksi selain HIV/AIDS (Depkes RI, 2003). Namun jika bayi belum terbukti positif, sebaiknya ibu tidak menyusui bayinya karena dapat terjadi transmisi vertikal HIV ke bayi sebesar 10-20%, terutama bila puting ibu lecet atau radang. Dan apabila tidak tersedia air bersih dan keluarga tidak mampu membeli susu formula, bayi sebaiknya diberikan ASI ekslusif, selanjutnya baru disapih karena resiko bayi meninggal akibat kurang gizi lebih besar daripada resiko meninggal karena HIV/AIDS (Nursalam, 2007).
Pemberian nutrisi pada bayi dan anak dengan HIV/AIDS tidak berbeda dengan anak yang sehat, hanya saja asupan protein dan kalorinya perlu ditingkatkan. Selain itu juga perlu diberikan multivitamin dan antioksidan untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan menghambat replikasi virus.
Meningkatnya kasus-kasus AIDS terutama di Yogyakarta, perlu segera mendapatkan penanganan dan harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena hal ini telah terjadi dan dapat menimbulkan pergeseran norma masyarakat. Pergaulan remaja yang bebas sebagai akibat dari pengawasan yang kurang, dan perkembangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang makin maju serta kurangnya pengetahuan masalah reproduksi, mengakibatkan terjadinya penyimpangan perilaku remaja.
Akademi Kebidanan Yogyakarta merupakan salah satu institusi pendidikan yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Pelaksanaan pelatihan HIV/AIDS untuk bidan desa dan pemanfaatan nutrisi sebagai pengganti ASI dalam upaya pencehagan penularan HIV/AIDS pada bayi yang merupakan salah satu wujud Akademi kebidanan Yogyakarta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Diharapkan, suatu kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dikelola secara optimal dan terorganisir dapat mengemas misi pendidikan dan promosi kesehatan. Selain itu juga diharapkan kegiatan tersebut dapat mewujudkan masyarakat yang berbasis intelektual, sehat jasmani dan rohani. Kegiatan pengabdian tersebut terlaksana juga atas kerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbagai pihak (stakeholder terkait).

Pelatihan Bidan Desa