Peningkatan Pengetahuan Bidan Desa dalam Penanggulahan HIV/AIDS

bidan-desa.jpgUpaya pengembangan masyarakat Indonesia yang sehat, sejahtera, adil dan makmur tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah semata. Secara proporsional tugas ini diemban pula oleh seluruh komponen bangsa lainnya, termasuk di dalamnya generasi muda penerus bangsa. Seluruh komponen ini mempunyai kepentingan untuk secara aktif bersinergi dalam upaya kemajuan bangsa Indonesia.

Penempatan bidan di desa merupakan salah satu terobosan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan hingga ke desa-desa. Kebijakan tersebut merupakan komitmen nasional dan akan diupayakan secara maksimal dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Namun dalam realitanya, seorang bidan desa yang langsung terjun ke masyarakat desa, dipandang sebagai seorang tenaga kesehatan yang tidak hanya mampu menolong persalinan, tetapi penanganan masalah kesehatan secara umum. Pergesaran tugas dan fungsi bidan desa itu sendiri karena sudah melayani pelayanan umum bukan hanya anak dan ibu saja, dan hal ini tidak dapat dielakkan karena kebutuhan untuk tambahan ekonomi keluarga sehari-hari, selain itu juga permintaan masyarakat desa. Padahal tugas pokok bidan di desa sebetulnya menolong persalinan, periksa hamil dan imunisasi. Tentu hal ini tidak sesuai dengan pendidikan yang didapatnya. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bantul terdapat 75 desa dan setiap desa memiliki penanggungjawab 1 bidan desa, sehingga jumlah bidan desa di kabupaten Bantul kurang lebih 75 bidan desa.

Salah satu permasalahan yang sangat vital adalah permasalahan timbulnya penyakit menular seksual seperti AIDS, dan permasalahan sosial lainnya yang berpengaruh terhadap kesiapan masyarakat, khususnya remaja untuk menyongsong masa depan. Jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi DIY dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup tajam. Pada tahun 2003 penderita HIV/AIDS di DIY baru 31 orang. Kemudian tahun 2004 meningkat menjadi 139 orang, tahun 2005 menjadi 221 orang, tahun 2006 bertambah menjadi 296 orang, tahun 2007 bertambah lagi menjadi 393 orang, dan terakhir hingga Juni 2008 sudah mencapai 547 penderita. Kasus ini dimungkinkan masih merupakan fenomena gunung es. Jumlah yang belum terekam lebih banyak lagi karena baru sekitar 16% penderita yang berhasil ditemukan dan dilaporkan. Penderita HIV/AIDS tersebut sebagian besar disebabkan akibat heteroseksual serta pemakaian jarum suntik untuk narkoba dengan penderita yang sebagian besar berada di usia produktif (Pemda-DIY, 2008). Menurut beberapa sumber informasi, bahwa penularan HIV/AIDS telah mencapai fase keluarga.

Dewasa ini, resiko penularan HIV/AIDS juga terjadi pada ibu ke bayi. Bayi yang sudah terinfeksi HIV/AIDS sebaiknya diberikan ASI ekslusif selama 4-6 bulan karena terbukti mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat infeksi selain HIV/AIDS (Depkes RI, 2003). Namun jika bayi belum terbukti positif, sebaiknya ibu tidak menyusui bayinya karena dapat terjadi transmisi vertikal HIV ke bayi sebesar 10-20%, terutama bila puting ibu lecet atau radang. Dan apabila tidak tersedia air bersih dan keluarga tidak mampu membeli susu formula, bayi sebaiknya diberikan ASI ekslusif, selanjutnya baru disapih karena resiko bayi meninggal akibat kurang gizi lebih besar daripada resiko meninggal karena HIV/AIDS (Nursalam, 2007).
Pemberian nutrisi pada bayi dan anak dengan HIV/AIDS tidak berbeda dengan anak yang sehat, hanya saja asupan protein dan kalorinya perlu ditingkatkan. Selain itu juga perlu diberikan multivitamin dan antioksidan untuk mempertahankan kekebalan tubuh dan menghambat replikasi virus.

Meningkatnya kasus-kasus AIDS terutama di Yogyakarta, perlu segera mendapatkan penanganan dan harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh, karena hal ini telah terjadi dan dapat menimbulkan pergeseran norma masyarakat. Pergaulan remaja yang bebas sebagai akibat dari pengawasan yang kurang, dan perkembangan media massa baik media cetak maupun elektronik yang makin maju serta kurangnya pengetahuan masalah reproduksi, mengakibatkan terjadinya penyimpangan perilaku remaja.

Akademi Kebidanan Yogyakarta merupakan salah satu institusi pendidikan yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Pelaksanaan pelatihan HIV/AIDS untuk bidan desa dan pemanfaatan nutrisi sebagai pengganti ASI dalam upaya pencehagan penularan HIV/AIDS pada bayi yang merupakan salah satu wujud Akademi kebidanan Yogyakarta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Diharapkan, suatu kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dikelola secara optimal dan terorganisir dapat mengemas misi pendidikan dan promosi kesehatan. Selain itu juga diharapkan kegiatan tersebut dapat mewujudkan masyarakat yang berbasis intelektual, sehat jasmani dan rohani. Kegiatan pengabdian tersebut terlaksana juga atas kerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbagai pihak (stakeholder terkait).

Oleh admin | July 23rd, 2009

Tidak ada Pesan
Silahkan Tulis Pesan



Silahkan Tinggalkan Pesan

(required)

(required)