Pengembangan Pendidikan Kebidanan dapat Gunakan Model Pembelajaran PBL
Pengembangan pendidikan kebidanan dapat diterapkan dengan model Problem Based Learning (PBL) atau Belajar Berbasis Masalah. Namun kesiapan penerapan PBL perlu menyeleksi calon mahasiswa kebidanan lebih ketat, diantaranya tes kemampuan dan bakat.
Demikian kesimpulan diskusi ilmiah ‘Pengembangan Pendidikan Kebidanan’ di Aula Akademi Kebidanan Yogyakarta (Akbid Yo), senin (11/8). Diskusi diselenggarakan Akbid Yo, menghadirkan pembicara anggota Komite Pendidikan Konsultan Kolegium Obstetrik Ginekologi Indonesia, Prof. Dr. Moh Anwar M.Med.Sc., Sp.OG. Diskusi diikuti sekitar 30 peserta aktif dari berbagai lembaga dan instansi terkait pendidikan kebidanan.
Pada sesi diskusi kelompok para peserta juga menyimpulkan mata kuliah yang perlu dikembangkan pada pendidikan kebidanan, diantaranya etika dan moral, entrepreneurship, pelayanan KB, kesehatan reproduksi, teknologi informasi, dan bahasa Inggris. Selain itu, penerapan pembelajaran PBL perlu mempertimbangkan kesiapan dosen, mahasiswa, mitra pendidikan, kurikulum, serta fasilitas penunjang. Juga perlu uji coba mata kuliah tertentu dan sosialisasi model PBL kepada semua unsur.
Menurut Prof. Moh. Anwar, prospek pendidikan kebidanan di era global mendapat tantangan lebih luas. Bukan hanya menyangkut masalah kuratif, melainkan perlu dilatih untuk memahami dan menjalankan prinsip promotif, preventif, dan rehabilitatif. Masalah etika dan moral harus ditekankan agar para lulusan pendidikan bidan mengetahui dengan baik tugas pokoknya, serta tidak melampaui wewenang dalam melakukan pelayanan kebidanan. Harus disadari, bidan adalah tenaga kesehatan yang berdiri di lini pertama untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu-anak.
“Bidan juga merupakan bagian dari sistem kesehatan menyeluruh, sehingga perlu diberikan pendidikan untuk menyadari keterbatasannya,”paparnya.
Diungkapkan, saat ini dalam setiap menit seorang ibu meninggal karena komplikasi berhubungan dengan kehamilan, persalinan atau setelah persalinan. tragisnya, 99 persen kematian ini terjadi di negara - negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian ibu (AKI) bervariasi, antara 6/100.000 kelahiran hidup di Norwegia, hingga 1.034 di Gambia. Di Indonesia mempunyai AKI sekitar 300 per 100.000 kelahiran hidup. “Angka ini suatu tingkat yang masih tinggi, atau paling tinggi di antara negara - negara ASEAN,” ungkap Prof. Anwar. (Ben)-g.
Sumber: Kedaulatan Rakyat Halaman 17, Rabu Pon 13 Agustus 2008.